CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Followers

Assalamualaikum

untuk pengetahuan anda
segala posting yang di terbitkan di dalam blog ini
adalah sumber/artikel/cerita dari mailbox saya yang telah
dikongsi oleh rakan rakan group

jadi..janganlah anda menuduh saya mengambil,mengedit dan selain nya dari mana mana fakta
kerana niat saya hanya untuk berkongsi sumber/artikel/cerita
yang telah saya baca

harap maklum

ikhlas
sweetmiko

Khamis, 28 Oktober 2010

Adab Membaca Al Quran

Adab Membaca Al Quran

Al Qura'an sebagai Kitab Suci, Wahyu Ilahi, mempunyai adab-adab tersendiri
bagi orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan sagnat
baik, untuk penghormatan dan keagungan Al Quran; tiap-tiap orang harus
berpedoman kepadanya dan mengerjakannya.

Imam Al Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin telah memperinci dengan
sejelas-jelasnya bagaimana hendaknya adab-adab membaca Al Qur'an menjadi
adab yang mengenal batin, dan adab yang mengenal lahir. Adab yang mengenal
batin itu, diperinci lagi menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati
membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati dikala membaca sampai ke
tingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan
demikian, kandungan Al Quran yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat
bersemi dalam jiwa dan meresap ke dalam hati sanubarinya. Kesemuanya ini
adalah adab yang berhubungan dengan batin, yaitu dengan hati dan jiwa.
Sebagai contoh, Imam Al Gazhali menjelaskan, bagaimana cara hati
membesarkan kalimat Allah, yaitu bagi pembaca Al Qur'an ketika ia
memulainya, maka terlebih dahulu ia harus menghadirkan dalam hatinya,
betapa kebesaran Allah yang mempunyai kalimat-kalimat itu. Dia harus yakin
dalam hatinya, bahwa yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia, tetapi
adalah kalam Allah Azza wa Jalla. Membesarkan kalam Allah itu, bukan saja
dalam membacanya, tetapi juga dalam menjaga tulisan-tulisan Al Quran itu
sendiri. Sebagaimana yang diriwayatkan, 'Ikrimah bin Abi Jahl, sangat gusar
hatinya bila melihat lembaran-lembaran yang bertuliskan Al Quran
berserak-serak seolah-olah tersia-sia, lalu ia memungutnya selembar demi
selembar, sambil berkata:"Ini adalah kalam Tuhanku! Ini adalah kalam
Tuhanku, membesarkan kalam Allah berarti membesarkan Allah."

Adapun mengenai adab lahir dalam membaca Al Quran, selain didapati di dalam
kitab Ihya Ulumuddin, juga banyak terdapat di dalam kitab-kitab lainnya.
Misalnya dalam kitab Al Itqan oleh Al Imam Jalaludin As Suyuthu, tantang
adab membaca Al Quran itu diperincinya sampai menjadi beberapa bagian.

Diantara adab-adab membaca Al Quran, yang terpenting ialah:

1. Disunatkan membaca Al Quran sesudah berwudhu, dalam keadaan bersih,
sebab yang dibaca adalah wahyu Allah.

2. Mengambil Al Quran hendaknya dengan tangan kanan; sebaiknya memegangnya
dengan kedua belah tangan.

3. Disunatkan membaca Al Quran di tempat yang bersih, seperti di rumah, di
surau, di mushalla dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih. Tapi
yang paling utama ialah di mesjid.

4. Disunatkan membaca Al Quran menghadap ke Qiblat, membacanya dengan
khusyu' dan tenang; sebaiknya dengan berpakaian yang pantas.

5. Ketika membaca Al Quran, mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan,
sebaiknya sebelum membaca Al Quran mulut dan gigi dibersihkan terlebih
dahulu.

6. Sebelum membaca Al Quran disunatkan membaca ta'awwudz, yang berbunyi:
a'udzubillahi minasy syaithanirrajim. Sesudah itu barulah dibaca
Bismillahirrahmanir rahim. Maksudnya, diminta lebih dahulu perlindungan
Allah, supaya terjauh pengaruh tipu daya syaitan, sehingga hati dan fikiran
tetap tenang di waktu membaca Al quran, dijauhi dari gangguan. Biasa juga
orang yang sebelum atau sesudah membaca ta'awwudz itu, berdoa dengan maksud
memohon kepada Alah supaya hatinya menjadi terang. Doa itu berbunyi sebagai
berikut.

"Ya Allah bukakanlah kiranya kepada kami hikmat-Mu, dan taburkanlah kepada
kami rahmat dan khazanah-Mu, ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang."

7. Disunatkan membaca Al Quran dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang
pelan-pelan dan tenang, sesuai dengan firman Allah dalam surat (73) Al
Muzammil ayat 4:

".... Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil".

Membaca dengan tartil itu lebih banyak memberi bekas dan mempengaruhi jiwa,
serta serta lebihmendatangkan ketenangan batin dan rasa hormat kepada Al
Quran.

Telah berkata Ibnu Abbas r. a.:" Aku lebih suka membaca surat Al Baqarah
dan Ali Imran dengan tartil, daripada kubaca seluruh Al Quran dengan cara
terburu-buru dan cepat-cepat."

8. Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran,
disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang
ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya. Cara pembacaan seperti inilah
yang dikehendaki, yaitu lidahnya bergerak membaca, hatinya turut
memperhatikan dan memikirkan arti dan maksud yang terkandung dalam
ayat-ayat yang dibacanya. Dengan demikian, ia akan sampai kepada hakikat
yang sebenarnya, yaitu membaca Al Quran serta mendalami isi yang terkandung
di dalamnya. Hal itu akan mendorongnya untuk mengamalkan isi Al Quran itu.
Firman Allah dalam surat (4) An Nisaa ayat 82 berbunyi sebagai berikut:

"Apakah mereka tidak memperhatikan (isi) Al Quran?..."

Bila membaca Al Quran yang selalu disertai perhatian dan pemikiran arti dan
maksudnya, maka dapat ditentukan ketentuan-ketentuan terhadap ayat-ayat
yang dibacanya. Umpamanya: Bila bacaan sampai kepada ayat tasbih, maka
dibacanya tasbih dan tahmid; Bila sampai pada ayat Doa dan Istighfar, lalu
berdoa dan minta ampun; bila sampai pada ayat azab, lalau meminta
perlindungan kepada Allah; bila sampai kepada ayat rahmat, llau meminta dan
memohon rahmat dan begitu seterusnya. Caranya, boleh diucapkan dengan lisan
atau cukup dalam hati saja. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dari Ibnu
Abbas yang maksudnya sebagai berikut: "Sesungguhnya Rasulullah s. a. w.
apabila membaca: "sabbihissma rabbikal a'la beliau lalu membaca
subhanarobbiyal a'la . Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dan Wa-il binHijr
yang maksudnya sebagai berikut:" Aku dengan Rasulullah membaca surat Al
Fatihah , maka Rasulullah sesudah membaca walad dholliin lalu membaca aamin
. Demikian juga disunatkan sujud, bila membaca ayat-ayat sajadah, dan sujud
itu dinamakan sujud tilawah.

Ayat-ayat sajadah itu terdapat pada 15 tempat yaitu:
dalam surat Al-A'raaf ayat 206
dalam surat Ar-ra'd ayat 15
dalam surat An-Nahl ayat 50
dalam surat Bani Israil ayat 109
dalam surat Maryam ayat 58
dalam surat Al-Haji ayat 18 dan ayat 77
dalam surat Al Furqaan ayat 60
dalam surat Annaml ayat 26
dalam surat As-Sajdah ayat 15
dalam surat As-Shad ayat 24
dalam surat Haamim ayat 38
dalam surat An-Najm ayat 62
dalam surat Al-Insyiqaq ayat 21,
dan dalam surat Al-'Alaq ayat 19

9. Dalam membaca Al Quran itu, hendaknya benar-benar diresapkan arti dan
maksudnya, lebih-lebih apabila smapai pada ayat-ayat yang menggambarkan
nasib orang-orang yang berdosa, dan bagaimana hebatnya siksaan yang
disediakan bagi mereka. Sehubungan dengan itu, menurut riwayat, para
sahabat banyak yang mencucurkan air matanya di kala membaca dan mendengar
ayat-ayat suci Al Quran yang menggambarkan betapa nasib yang akan diderita
oleh orang-orang yang berdosa.

10. Disunatkan membaca Al Quran dengan suara yang bagus lagi merdu, sebab
suara yang bagus dan merdu itu menambah keindahan islubnya Al Quran.
Rasulullah s. a. w. telah bersabda:

"Kamu hiasilah Al Quran itu dengan suaramu yang merdu"

Diriwayatkan, bahwa pada suatu malam Rasulullah s. a. w. menunggu-nunggu
istrinya, Sitti 'Aisyah r. a. yang kebetulan agak terlambat datangnya.
Setelah ia datang, Rasulullah bertanya kepadanya:" Bagaimanakah keadaanmu?"
Aisyah menjawab :"Aku terlambat datang, karena mendengarkan bacaan Al Quran
seseorang yang sangat bagus lagimerdu suaranya. Belum pernah
akumendengarkan suara sebagus itu." Maka Rasulullah terus berdiri dan pergi
mendengarkan bacaan Al Quran yang dikatakan Aisyah itu. rasulullah kembali
dan mengatakan kepada Aisyah:" Orang itu adalah Salim, budak sahaya Abi
Huzaifah. Puji-pujian bagi Allah yang telah menjadikan orang yang suaranya
merdu seperti Salim itu sebagai ummatku."

Oleh sebab itu, melagukan Al Quran dengan suara yang bagus, adalah
disunatkan, asalkan tidak melanggar ketentuan-ketentuan dan tata cara
membaca sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu qiraat dan tajwid,
seperti menjaga madnya, harakatnya (barisnya) idghamnya dan lain-lainnya.
Di dalam kitab zawaidur raudhah, diterangkan bahwa melagukan Al Quran
dengan cara bermain-main serta melanggar ketentuan-ketentuan seperti
tersebut di atas itu, haramlah hukumnya; orang yang membacanya dianggap
fasiq, juga orang yang mendengarkannya turut berdosa.

11. Sedapat-dapatnya membaca Al Quran janganlah diputuskan hanya karena
hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai
ke batas yang telah ditentukan, barulah disudahi. Juga dilarang
tertawa-tawa, bermain-main dan lain-lain yang semacam itu, ketika sedang
membaca Al Quran. Sebab pekerjaan yang seperti itu tidak layak dilakukan
sewaktu membaca Kitab Suci dan berarti tidak menghormati kesuciannya.

Itulah diantara adab-adab yang terpenting yang harus dijaga dan
diperhatikan, sehingga dengan demikian kesucian Al Quran dapat terpelihara
menurut arti yang sebenarnya.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Catat Ulasan